Type something and hit enter

Posted by On
Macam-macam bacaan Do'a Iftitah/Istiftah yang benar dan yang shahih, sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya beserta latin dan artinya/terjemahan.

Coretanpemuda.com - Pada kesempatan kali ini kami akan membagikan bacaan do'a iftitah/istiftah dalam sholat sesuai sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.

Pengertian do'a iftitah atau disebut juga dengan istiftah adalah do'a yang dibaca setelah takbiratul ihram. Do'a iftitah dibaca pelan, baik imam, makmum, maupun orang yang shalat sendiri.

Sebelum kita mulai membahas ini, sudahkah kalian tahu hukum bacaan do'a iftitah? Timbul sebuah pertanyaan,

Macam Doa Iftitah yang Shahih dan Benar, sesuai Sunnah Rasullullah (Latin dan Artinya)

Membaca doa iftitah itu wajib atau sunat?


Menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) bahwa membaca do'a iftitah itu dihukumi sunnah, tidak sampai tingkatan wajib.

Do'a iftitah disunnahkan untuk dibaca saat setiap shalat dan setiap keadaan. Diantara dalilnya adalah:

Imam Nawawi mengatakan bahwa do'a iftitah disunnahkan dibaca untuk setiap orang yang shalat, untuk imam, makmum, munfarid, wanita, anak-anak, musafir, orang yang sholat wajib, orang yang sholat sunnah, orang yang sholat sambil duduk, orang yang sholat sambil berbaring, dan selainnya. Termasuk juga di dalamnya orang yang melaksanakan sholat sunnah wajib, sholat sunnah mutlak, sholat 'ied, sholat gerhana (shalat kusuf) dan sholat minta hujan (shalat istisqa').

Adapun yang dikecualikan di sini adalah shalat 'ied, shalat jenazah, dan shalat lail (shalat malam), ada pembicaraan tersendiri mengenai do'a iftitah dalam shalat tersebut.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa, "Disunnahkan membaca doa istiftah tersebut dalam shalat wajib. Sedangkan doa istiftah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada shalat nafilah (shalat sunnah)."

Abu Hurairah mengatakan bahwa, "Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu .... (beliau menjawab doa istiftah)" (Muttafaqun 'alaih).

Bagaimana jika meninggalkan membaca do'a iftitah?


Adapun jika meninggalkan membaca do'a ifitah mungkin bisa dilihat dari pendapat ulama ini.

Ulama Hanabilah berpandangan bahwa shalat sunnah jika dilakukan lebih dari sekali salam seperti pada shalat tarawih, dhuha, sunnah rawatib, maka di setiap dua raka'at (memulai shalat) disunnahkan membaca do'a iftitah. Karena setiap dua raka'at itu berdiri sendiri. Namun menurut pendapat yang lain, cukup di awal shalat saja membaca iftitah.

Berarti ada ulama yang berpendapat bolehnya meninggalkan doa iftitah untuk shalat yang salamnya lebih dari sekali seperti dalam shalat tarawih.

Bagaimana jikalau Imam tidak membaca Do'a Iftitah (langsung membaca surat), apakah sebagai makmum tetap membacanya?


Jawabannya, tetap membacanya.

Coba lihat nukilan berikut,

.قال الشّافعيّة : يسنّ للمأموم أن يستفتح ، ولو كان الإمام يجهر والمأموم يسمع قراءته.

"Ulama Syafi'iyah menyatakan bahwa disunnahkan bagi makmum untuk membaca do'a iftitah walau imam sudah mengeraskan bacaan suratnya dan makmum mendengarkannya."

Namun, untuk makmum masbuq (ketinggalan) tidak perlu membaca do'a iftitah.

Tonton Video Penjelasan Ustadz Badrusalam, Lc mengenai membaca Do'a Istiftah.


Macam-Macam Do'a Iftitah/Istiftah


Ada beberapa macam do'a iftitah yang telah diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih. 

Untuk itu, dianjurkan bagi setiap muslim untuk membaca do'a-do'a tersebut secara bergantian. Misalnya, shalat subuh membaca do'a iftitah tertentu dan kemudian shalat dzuhur membaca do'a iftitah yang lain. Dengan begitu semua sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan lestari dan tetap terjaga.

Berikut ini macam-macam doa iftitah/istiftah yang shahih, berdasarkan penelitian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah terhadap dalil-dalil do'a iftitah, yang tercantum dalam kitab beliau Sifatu Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Do'a Pertama (Doa iftitah Allahumma baid baini)


اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

"Allaah-humma baa-‘id bai-nii wa bai-na kha-thaa-yaa-ya kamaa baa-‘ad-ta bai-nal masy-riqi wal magh-rib. Allaah-humma naqqi-nii min khathaa-yaa-kamaa yunaq-qats-tsaubul ab-ya-dlu minad danas. Allaah-hummagh-sil-khathaa-yaa-ya bil maa-i wats-tsalji wal barad."

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

Keterangan: Do'a ini biasa dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat fardhu/shalat wajib. Do'a ini adalah doa yang paling shahih diantara doa-doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (2/183).

Abu Hurairah Radhiallahu'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam pada waktu antara takbir dan Al-Fatihah, lalu saya bertanya kepada beliau: "Apakah yang Engkau baca diantara takbir dan Al-Fatihah itu, ya Rasululllah?" Rasulullah menjawab: "Saya membaca: (seperti do'a di atas).

Do'a Kedua (Doa iftitah Wajjahtu)


وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawati wal ardh, hanifan wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin, la syarikalahu wabidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Allahumma antal malik, la ilaha illa anta robbi wa ana ‘abduka, zholamtu nafzi wa’taroftu bidzanbi, faghfirli dzunubi jami’a, la yaghfiruz dzunuba illa anta, wahdini liahsanil akhlaq la yahdi li ahsaniha illa anta, washrif ‘anni sayyi’aha la yashrifu ‘anni sayyi’aha illa anta, labbaika wa sa’daika, wal khoiru kulluhu biyadaika, was syarru laisa ilaika, ana bika wa ilaika, tabarokta wa ta’alaita, astaghfiruka wa atubu ilaika”.

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)

Keterangan: Do'a ini biasa dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.

Dari Ali bin Abi Thalib Radhialahu'anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ketika shalat membaca: (seperti do'a di atas).

Do'a Ketiga


اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/251)

Do'a Keempat


إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)

Do'a Kelima


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

"Subhaana-kallaah-humma wa biham-dika wa tabaa-rakas-muka wa ta-‘aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk"

“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)

Keterangan: Do'a ini juga diriwayatkan oleh 'Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir Radhialahu'anhu

Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat:

"Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat): (lalu menyebut doa di atas)" (HR. Muslim no.399).

Do'a ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi, sehingga para ulama pun banyak mengamalkan doa ini dalam shalat. Selain doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimani banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak dan orang tua.

Dalam pandangan madzhab Hanafi dan Hanbali, dan ini yang sering dipakai oleh Umar, Ibnu Mas'ud, Al-Auza'i, Ats-Tsauri bahwa lafazh do'a istiftah

Do'a Keenam


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

3x  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

3x  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

"Subhaana-kallaah-humma wa biham-dika wa tabaa-rakas-muka wa ta-‘aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk. Laa-ilaaha-illallaah (3 kali) allaahu akbar kabii-raa (3 kali)."

“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (3x), Allah Maha Besar (3x)” (HR. Abu Daud 1/124 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)

Keterangan: Dari Abu Said Al-Khudri Radhiallahu'anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika shalat malam beliau bertakbir kemudian membaca do'a (seperti di atas).

Do'a Ketujuh (Doa iftitah kabiro)


اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

"Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaa-nallaa-hi buk-rataw wa ashii-laa."

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim 2/99).

Keterangan: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu'anhu, ia berkata:

“Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: (lalu disebutkan doa di atas). Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit‘. Ibnu Umar pun berkata:’Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian’”.

Do'a Kedelapan


الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

"Al hamdu lil-laahi hamdan katsii-ran thayyi-ban mubaa-rakan fiih."

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya” (HR. Muslim 2/99).

Keterangan: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiallahu'anhu, ketika ada seorang lelaki yang membaca doa iftitah tersebut, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam bersabda:

"Aku melihat dua belas malaikat bersegera menuju kepadanya. Mereka saling berlomba untuk mengangkat do'a itu (kepada Allah Ta'ala)."

Do'a Kesembilan


اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau” (HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 – 367, 13/399, Muslim 2/184)

Keterangan: Do'a iftitah ini sering dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam. Namun tetap masyru' juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.

Do'a Kesepuluh


اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Allaa-humma rabba jib-riila wa mii-kaa-iil wa israafiil. Faa-thiras samaa-waati wal ardl. ‘aali-mal ghai-bi was syahaa-dah. Anta tahkumu bai-na ‘ibaa-dik fii-maa kaa-nuu fiihi yakh-tali-fuun. Ihdi-nii limakh-tulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraa-tim mustaqiim."

“Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki” (HR. Muslim 2/185)

Keterangan: Do'a iftitah ini juga sering dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam. Namun tetap masyru' juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.

Do'a Kesebelas


10x الله اكبر

Allaahu akbar (10 X)

10x الحمد لله

Al hamdu lil-laah (10 X)

10x لا اله الا الله

Laa-ilaaha-illallaah (10 X)

10x استغفر الله

Subhaa-nallaah (10 X)

10x اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ،وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي

Allaah-hummagh fir lii wah-dinii war-zuqnii wa ‘aa-finii (10 kali)

10x اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ

Allaah-humma innii a-‘uudzu bika minad Dhii-qi yaumal hisaab (10 kali)


“Allah Maha Besar” 10x

“Segala pujian bagi Allah” 10x

“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” 10x

“Aku memohon ampun kepada Allah” 10x

“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesehatan” 10x

“Ya Allah, aku berlindung dari kesempitan di hari kiamat” 10x

(HR. Ahmad 6/143, Ath Thabrani dalam Al Ausath 62/2. Dihasankan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/267)

Do'a keduabelas


اللَّهُ أَكْبَرُ [ثلاثاً] ، ذُو الْمَلَكُوتِ، وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

"Allaahu akbar (3 kali), Dzul-malakuut wal jaba-ruut wal kib-riyaa’ wal ‘a-dza-mah."

“Allah Maha Besar” 3x

“Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122)

Do'a Iftitah Imam dan Makmum


Para ulama dari madzhab Hanafi (Ad-Dur Al-Mukhtar:1/328) menilai bahwa saat imam mulai membaca Al-Fatihah maka bagi makmum berhenti dari membaca iftitah dan fokus mendengar bacaan imam, utamanya ketika shalat jahriyyah (bacaan imam keras).

Pandangan para ulama dari madzhab Syafi'i, baik pada shalat sirriyyah maupun jahriyyah semua makmum tetap disunnahkan membaca do'a iftitah, akan tetapi saat imam mulai membaca Al-Fatihah hendaknya makmum segera mempercepat bacaan agar sesegera mungkin selesai dari do'a iftitahnya. (Nihayah Al-Muhtaj: 1/454).

Dalam pandangan ulama mazhab Hanbali hampir sama dengan madzhab Syafi'i, hukumnya sunnah bagi makmum untuk membaca do'a iftitah jika memang ada kesempatan untuk membaca do'a iftitah, dimana imam belum mulai membaca Al-Fatihah, namun jika imam dalam shalat jahriyyah langsung membaca Al-Fatihah setelah takbiratul ihram tanpa memberikan jeda diam sebentar untuk do'a iftitah maka pendapat para ulama dalam madzhab ini baiknya makmum tidak membaca do'a iftitah dan diam saja mendengarkan bacaan Al-Fatihah imam. (Al-Mughni: 1/607).

Do'a iftitah Makmum Masbuq (ketinggalan)


Para ulama madzhab Hanafi berpandangan bahwa jika masbuq pada shalat jahriyyah dan imam sedang membaca Al-Fatihah/surat lainnya, maka yang terbaik bagi makmum adalah mendengarkan bacaan imam, akan tetapi nanti setelah berdiri lagi untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal, maka kesunnahan membaca do'a iftitah tadi boleh dibaca, namun jika masbuq pada shalat sirriyah maka kesunnahan iftitah masih tetap ada walau sudah tertinggal lebih dari satu rakaat.

Dalam madzhab Syafi'i (Al-Adzkar: 44), jika orang yang masbuq mendapati imam dalam kondisi berdiri, baik dalam keadaan shalat jahriyyah maupun sirriyah, maka kesunnahan membaca do'a iftitah tetap ada, jika memang yakin bahwa membaca Al-Fatihah tetap bisa selesai sebelum imam rukuk, jika tidak maka baiknya do'a iftitah ditinggalkan saja dan segera membaca Al-Fatihah, dengan dimikian tidak ada lagi waktu untuk membaca iftitah setelah nya hingga selesai shalat.

Sedangkan menurut pandangan madzhab Hanbali (Al-Mughni: 2/265), jika sudah terlewatkan rakaat pertama, maka mereka yang masbuq boleh-boleh saja membaca do'a iftitah pada saat berdiri, saat dia pertama masuk kedalam shaf shalat, pendapat membaca do'a iftitah dan tidak membaca keduanya ada di riwayat Imam Ahman bin Hanbal.

Adab Membaca Do'a Iftitah


Ada beberapa macam adab membaca do'a istiftah/iftitah dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam kitab Al Adzkar (1/107):

  1. Disunnahkan menggabung beberapa do'a istiftah, dalam shalat sendirian. Atau juga bagi imam, bila diizinkan oleh makmum. Jika makmum tidak mengizinkan, maka jangan membaca do'a yang terlalu panjang. Bahkan sebaiknya yang singkat.
  2. Jika sebagai makmum masbuk, tetap membaca do'a iftitah. Kecuali jika imam sudah segera rukuk, dan khawatir tidak sempat membaca Al-Fatihah. Jika demikian, sebaiknya tidak perlu membaca iftitah, namun berusaha menyelesaikan membaca Al-Fatihah. Karen membaca Al-Fatihah itu rukun shalat.
  3. Jika mendapati imam tidak sedang berdiri, misalnya ketika sedang rukuk, atau duduk di antara dua sujud atau sedang sujud, maka makmum langsung mengikuti posisi imam dan membaca sebagaimana yang dibaca imam. Tidak perlu membaca do'a iftitah ketika itu.
  4. Para ulama Syaifi'iyyah berbeda pandangan mengenai anjuran membaca do'a istiftah ketika shalat jenazah. Menurut Imam An Nawawi, yang lebih tepat adalah tidak perlu membacanya, karena shalat jenazah itu sudah selayaknya ringan.
  5. Membaca do'a iftitah hukumnya sunnah, bukan wajib. Jika seseorang meninggalkannya, tidak perlu sujud sahwi.
  6. Yang sesuai sunnah, do'a iftitah dibaca sirr (lirih). Jika dibaca dengan jahr (keras) hukumnya makruh, namun tidak membatalkan shalat.


Kesalahan dalam Membaca Do'a Iftitah


  1. Tidak membaca do'a iftitah padahal ada kesempatan untuk membacanya. 
  2. Makmum yang masbuk (ketinggalan) menyibukkan diri dengan membaca do'a iftitah, padahal imam sudah mulai rukuk. (Dikisahkan bahwa Ibnul Jauzi pernah shalat dibelakang gurunya Abu Bakr Ad Daunari. Ibnul Jauzi ketinggalan dan imam sudah mau rukuk. Tetapi Ibnul Jauzi sibuk membaca do'a iftitah. Ketika mengetahui hal ini, gurunya menasehatkan: “Sesungguhnya ulama berselisih tentang wajibnya membaca surat al fatihah di belakang imam, namun mereka sepakat bahwa do’a iftitah adalah sunnah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunah.” (Al Qoulul Mubin, dinukil dari Talbis Iblis).
  3. Imam membaca do'a iftitah terlalu panjang. Sebaiknya imam memilih do'a iftitah yang pendek.

Baca juga: Bacaan Doa Sholat Jenazah Sesuai Sunnah Rasulullah

Demikianlah artikel ini tentang macam-macam bacaaan do'a iftitah/istiftah yang benar atau berdasarkan hadist shahih, sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beserta latin dan terjemahan artinya.

Wallahu A’lam Bisshawab

Referensi: https://carasholat.com/239-bacaan-sholat-membaca-doa-iftitah.html
https://muslim.or.id/7934-macam-%E2%80%93-macam-doa-istiftah.html
https://rumaysho.com/6994-sifat-shalat-nabi-3.html
https://rumaysho.com/13613-shalat-imam-tidak-memakai-doa-iftitah-sahkah.html
https://www.rumahfiqih.com/y.php?id=441&sifat-shalat-membaca-doa-iftitah.htm

0 komentar