Type something and hit enter

Posted by On
Jenis-Jenis Manusia Purba yang Hidup di Zaman Pra-Aksara - Manusia diciptakan oleh Tuhan YME dibekali dengan hati nurani dan akal yang cerdas. Unsur akal inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Dengan akalnya manusia selalu bertahan demi kelangsungan hidupnya.

Makhluk sejenis ini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun sebelum Masehi. Pada fase awal kehidupan dikenal adanya tahapan atau zaman yang disebut nirleka atau pra-aksara. Hal ini untuk menandai bahwa saat itu belum dikenal adanya tulisan.

Jenis Manusia Purba di Indonesia yang Pernah Hidup Pada Zaman Pra-Aksara


Kata nirleka berasal dari kata nir yang berarti tanpa dan leka yang berarti tulisan. Begitu pula praaksara berasal dari kata pra yang berarti sebelum dan aksara berarti tulisan, jadi praaksara adalah zaman sebelum mengenal tulisan.

Berdasarkan beberapa kajian dan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli, dapatlah diklasifikasikan beberapa jenis manusia purba yang pernah hidup di zaman pra-aksara yang ditemukan di Indonesia.

3 Jenis Manusia Purba yang Pernah Hidup di Zaman Pra-Aksara


1. Jenis Meganthropus

Jenis Meganthropus

Jenis manusia purba ini berdasarkan penelitian von Koeningswald di Sangiran tahun 1936 sampai tahun 1941.

Dalam penyelidikan tersebut berhasil ditemukan tulang rahang manusia bagian bawah dan atas. Dari penemuan tersebut diperkirakan bentuk rahang dan gerahamnya cukup besar.

Dari hasil rekontruksi ini kemudian para ahli menamakan jenis manusia purba ini dengan sebutan Meganthropus paleojavanicus, yang artinya manusia raksasa dari Jawa. Kata megas artinya besar atau raksasa dan anthropos artinya manusia.

Sekarang istilah manusia purba itu adalah Australopithecus paleojavanicus. Diperkirakan jenis manusia purba ini merupakan manusia tertua yang pernah hidup di Indonesia.

Meganthropus paleojavanicus memiliki ciri-ciri yaitu:

  • Bentuk fisik yang besar dan tegap dengan tonjolan tajam di belakang kepala
  • Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok dan tidak berdagu
  • Otot kunyah, gigi, serta rahang besar dan kuat diperkirakan makanan jenis manusia purba ini adalah tumbuh-tumbuhan
  • Masa hidupnya diperkirakan pada zaman Pleistosen Awal.
  • Hidup sekitar 2 - 1 juta tahun yang lalu.
  • Alat-alat yang mereka gunakan terbuat dari batu kasar.


2. Jenis Pithecanthropus

Jenis Pithecanthropus mojokertensis

Jenis manusia ini didasarkan pada penelitian Eugene Dubois pada tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, di wilayah Ngawi, Jawa Timur.

Setelah direkonstruksi terbentuk kerangka manusia, tetapi masih terlihat tanda-tanda kera. Oleh karena itu jenis ini dinamakan Pithecanthropus erectus, yang artinya manusia kera yang berjalan tegak.

Pada tahun 1936, jenis ini juga ditemukan di Mojokerto oleh von Koeningswald, ia menemukan sebuah fosil tengkorak anak-anak. Dilihat dari giginya, diperkirakan umurnya belum sampai lima tahun. Oleh karena ditemukan di daerah Mojokerto, makhluk itu kemudian diberi nama Pithecanthropus mojokertensis.  Kehidupan mereka kira-kira pada Pleistosen Tengah.

Meskipun termasuk jenis Pithecanthropus, tetapi usianya lebih tua dibandingkan dengan Pithecanthropus erectus.

Bentuk tubuh Pithecanthropus Erectus lebih kecil dari Pithecanthropus Mojokertensis dengan tinggi badan sekitar 160-180 cm, volume otaknya diperkirakan 750 - 900 cc, rahangnya menonjol ke depan, terdapat tonjolan kening di dahi, tidak mempunyai dagu, hidung lebar, dan leher tegap.

Lalu, ada pula Pithecanthropus Soloensis yang berarti manusia kera dari Solo, yang ditemukan oleh von Koeningswald, Ter Haar, dan Oppenoorth di Desa Ngandong, Jawa Tengah.

Ciri-ciri Pithecathropus Soloensis, yaitu memiliki tengkorak lonjong, tebal padat dan memiliki rongga mata yang sangat panjang. Sebagian ahli menganggap Pithecanthropus Soloensis sebagai bagian dari Homo Sapiens.

Pithecanthropus hidup pada Kala Pleistosen Awal, Pleistosen Tengah, dan Pleistosen Akhir. Fosil-fosilnya banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada Kala Pleistosen, daerah tersebut diperkirakan berupa padang rumput dengan pepohonan yang jauh jarak tumbuhnya.

Ciri-ciri tubuh Pithecanthropus berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan adalah sebagai berikut.

  • Berbadan tegap, tinggi badan 165-180 cm dengan berat sekitar 100 kg.
  • Alat pengunyah yang kuat.
  • Hidungnya lebar dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol.
  • Rahang dan geraham tampak kuat.
  • Tulang atap tengkorak tebal dengan bentuk keseluruhan lonjong.
  • Terdapat tulang yang menonjol di belakang kepala.
  • Tulang kening tebal, menonjol dan melebar sampai pelipis.
  • Berjalan tegak, tetapi belum sempurna.
  • Belum memiliki tulang dagu.
  • Isi tengkorak diperkirakan antara 750-1300 cc.
  • Diperkirakan merupakan makhluk hidup omnivora (pemakan segala).


3. Jenis Homo

Jenis Homo Erectus

Fosil kelompok Homo ini pertama kali ditemukan oleh von Reitschoten di daerah Wajak, Tulungagung. Setelah diteliti oleh Eugene Dubois dan kawan-kawannya  disimpulkan bahwa kelompok Homo yang memiliki ciri-ciri antara lain:

  • Tinggi badan kurang lebih 130-210 cm dengan berat 30-150 kg.
  • Isi tengkorak berkisar 1000-2000 cc.
  • Tulang dahi dan bagian belakang tengkorak sudah membulat dan tinggi.
  • Alat pengunyah, rahang, gigi, dan otot tengkuk sudah mengecil.
  • Muka tidak begitu menonjol ke depan.
  • Berjalan dan berdiri sudah tegak sempurna.
  • Mereka sudah membuat alat-alat dari batu atau tulang.
  • Hidup sekitar 40.000 - 25.000 tahun yang lalu.


Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, dapatlah dikenal sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi. Oleh karena itu, jenis Homo yang ditemukan di Wajak oleh para ahli disebutnya sebagai Homo sapiens yang artinya manusia cerdas (berakal sempurna).

Homo sapiens adalah jenis manusia yang sesungguhnya. Jenis Homo ini diperkirakan sudah hidup sejak sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Di Indonesia ada beberapa tempat penemuan kelompok Homo yang nama penyebutannya disesuaikan dengan tempat penemuannya.

  1. Kelompok Homo yang ditemukan di Wajak tahun 1889, dinamakan Homo wajakensis (Manusia Wajak) yang diperkirakan menjadi nenek moyang dari ras Australoid, yaitu penduduk asli Australia.
  2. Kelompok Homo yang ditemukan di dekat Solo yang dinamakan Homo soloensis (Manusia Solo), dimana pola hidup, peralatan, dan hasil-hasil kebudayaan mereka sudah lebih sempurna.
  3. Kelompok Homo yang ditemukan di sebuah gua Liang Bua tahun 2004 oleh tim peneliti gabungan Indonesia dan Australia. Sebuah gua pemukiman prasejarah di Flores. Oleh karena itu dinamakan Homo floresiensis.


Perlu kalian ketahui bahwa manusia jenis Homo sudah pandai merekayasa alam untuk kepentingan hidupnya.

Demikianlah artikel tentang jenis-jenis manusia purba yang hidup pada zaman pra-aksara yang ditemukan di Indonesia. Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

0 komentar